Lebaran adalah momentum berkumpul, terasa sedih ketika mendengar kerabat yang tidak bisa mudik karena merantau ke tempat yang jauh.
Tak bisa membayangkan jika itu terjadi pada keluarga kami, itulah perasaan yang muncul saat masih kecil, ketika anjangsana ke rumah-rumah kerabat.
Pandangan itu mulai berubah sejak kuliah ke Malang, ketika bertemu teman-teman dari luar Jawa, tidak semua dari mereka bisa mudik lebaran karena alasan biaya.
Budget pulang kampung tidak murah; tiket pesawat, bus lokal, hingga transportasi tambahan menuju rumah.
Di antara mereka berasal dari Lampung, Gorontalo, Medan dan Bima, NTB. Bahkan masih harus menempuh puluhan kilometer dari pusat kota.
Mudik lebaran tidak mereka masukkan dalam list anggaran, dialihkan untuk mudik libur semester yang lebih panjang.
Meski rata-rata teman dari luar Jawa berkecukupan secara ekonomi, namun ada juga yang tidak mudik karena orang tuanya kehabisan dana untuk membelikan tiket pulang.
Kebutuhan di rumah juga sangat banyak ketika lebaran, harus ada yang mengalah.
Mereka pun berlebaran di koskosan, kontrakan, atau berkumpul di asrama daerah.
Tentu ada rasa haru, sedih dan nelangsa, anggap ini sebagai ongkos perjuangan menuntut ilmu.
Suatu ketika itupun saya lakukan, mudik lebaran H+2, ingin merasakan bagaimana shalat id jauh dari rumah, bersama teman dari luar Jawa.
Lagipula, jarak Malang-Blitar bisa ditempuh kurang dari 3 jam. Cukup dekat. Sorenya bisa pulang.
Untungnya Malang adalah kota yang sangat akrab dengan anak rantau, mereka lekas paham jika tidak semua mahasiswa luar Jawa bisa mudik.
Setelah selesai shalat id, kami tak lekas berkeliling rumah-rumah seperti lebaran di kampung halaman.
Kami tidak merasa bagian dari warga sekitar, ruang tamu kontrakan pun tidak kami sediakan camilan, memang siapa yang akan berkunjung?
Kami berkunjung ke rumah-rumah dosen, ternyata sebagian besar dosen juga sedang mudik.
Di kampus kami, jarang sekali dosen yang asli kelahiran Malang, meski sebagian kini telah ber-KTP Malang.
Ya, hari pertama lebaran umumnya adalah "waktu keluarga", terutama untuk perantau. Hari kedua dan seterusnya menyesuaikan.
Minta maaf ke orang tua adalah yang paling pertama dilakukan sebelum ke orang lain, itulah tradisi yang sejak lama juga saya lakoni.
Namun sakralitas itu sepertinya mulai memudar. Minta maaf ke orang tua bisa kapan saja, sebab dosa yang kita lakukan juga bisa terjadi sewaktu-waktu.
Lebaran hanya momentum kecil, sebab tidak ada juga kekhususan minta maaf (hanya) saat lebaran.
Namun itu juga tidak keliru, sebab ego manusia kadang tak mau luruh untuk meminta maaf kecuali saat lebaran.
Meski setiap kali ketemu kita selalu berjabat tangan, kapanpun itu. Apakah arti dari jabat tangan tersebut?
Beberapa waktu lalu seorang teman mengunggah story wa sedang bekerja, dia tidak mudik, dan baginya lebaran tidak lagi sakral.
Karena keadaan! Jawabnya. Tak ada lagi keharuan, semua berjalan apa adanya, dan manusia selalu bisa beradaptasi dengan keadaan.
Sejak kuliah dia juga jarang mudik, dan setelah lulus dia bekerja di tempat yang lebih jauh dari kampung halaman.
Sekarang sudah ada video call, perbincangan jadi lebih intim dan mendalam karena bisa melihat ekspresi wajah.
Meski itu tak pernah bisa menggantikan perjumpaan, tak akan pernah bisa. []