Lebaran, Filsafat dan Angpau


Lebaran, Filsafat dan Angpau


Kunjungan lebaran ke rumah kerabat, tetangga, guru hingga teman sejawat akan meletupkan beragam topik perbincangan, mulai dari yang privat hingga isu publik.


Perbincangan privat misalnya: sekarang kerja di mana, kuliah di mana, kapan nikah, anaknya berapa?


Perbincangan bertema publik beda lagi, mengomentari soal kebijakan pemerintah, fenomena sosial, atau ide-ide lain.


Tergantung ke rumah siapa kita berkunjung, dan sebanyak apa tuan rumah punya stok tema perbincangan.


Namun sejauh ini, obrolan privat menduduki klasemen utama, terutama saat kunjungan ke kerabat dekat.


Dalam budaya tradisional, keluarga besar perlu tahu urusan dapur keluarga lain, sebab biasanya antar keluarga saling menopang.


Hubungan itu terjalin intim, sehingga membahas hal-hal privat dengan keluarga bukan suatu yang aneh.

Malah terasa aneh saat kunjungan lebaran yang kita bahas adalah Plato, Aristoteles, Filsafat Stoa dlsb. Mereka hanya akan bengong sambil membatin: ini kesambet apa?


Mungkin agak mending jika yang kita bahas misalnya, kebijakan makan siang gratis, UU perampasan aset, RUU TNI dsj, meski akan tetap dianggap aneh.


Itu ada forumnya sendiri, kalau bertemu keluarga ya yang dibahas wilayah keluarga saja, mungkin akan dipagari dengan kalimat tersebut.


Selanjutnya, lebaran juga forum yang pas untuk menceritakan pencapaian hidup. Baru kerja di sana, gajinya segini, bosnya begitu, kantornya kayak gini, dll.


Seru! Lebaran harus membawa kabar gembira, ada pencapaian yang berarti, agar bahu kita tegap bertemu orang, tidak menunduk dan lemah lesu.


Lalu apa wujudnya? Angpau. 


Ya, sejak dua tahun terakhir saya berpikir bisakah mengambil secuil dari tabungan untuk dikonversi jadi beberapa angpau, lalu didistribusikan ke para keponakan?


Dibanding kerabat lain, kisah hidupku mungkin tak sehebat itu, hanya menjadi editor lepas, menulis dan sesekali mengelola project sosial yang nominalnya tentu tak sebesar project pembangunan jalan tol atau wisma atlit.


Namun ada keasyikan sendiri dan kebermaknaan sendiri ketika bisa memberi angpau ke ponakan yang datang berkunjung ke rumah.

Lebih berasa dibanding menceritakan isi kepala yang penuh dengan buku-buku bacaan, atau pengalaman yang tak seberapa.


Meskipun sebenarnya saya lebih suka jadi pendengar, kecuali keadaan mengharuskan untuk bicara.


Begitupun saat nongkrong di suatu kafe, kekaguman kita beralih dari yang berwawasan ke yang membayarkan sajian yang dipesan.


Sampai ketika ritual ngopi itu berakhir, doa saya jadi dua: Ya Tuhan, jadikan hamba orang berwawasan seperti si A, dan berikan hamba kesempatan bisa bayarin ngopi seperti si B.


Selama ini kita berlebihan dalam ontologi-epistemologi namun minim aksiologi, dan nalar itu didapat ketika belajar filsafat.


Otak kita berkelindan tentang apa, siapa, mengapa, namun hidup menuntut kita untuk; bagaimana aksinya?


Filsafat tak perlu diucapkan di ruang tamu saat lebaran, cukup sebagai basis pikiran dalam kepala kita masing-masing.


Cerita tentang hebatnya pencapaian yang hiperbolik juga bisa menjadi senjata makan tuan ketika setelahnya tak ada angpau yang diedarkan.


Sekalipun buku "Manusia Indonesia" karya Mochtar Lubis banyak dikritik, namun sebagai realitas itu masih terjadi, terutama saat lebaran seperti ini.


Kita mungkin korban, meski dulunya adalah penerima manfaat.


Maaf lahir bathin.

Fahrizal sekeluarga


Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger, Aktivis Literasi, suka jalan-jalan dan nongkrong

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak